Ulama adalah

Ulama adalah

Ulama adalah

Ulama adalah
Ulama adalah

Ulama adalah jamak dari kata “aliim” yang berarti orang-orang yang berilmu. Disini mengisyaratkan bahwa dalam upaya mewujudkan kebangkitan harus dilakukan oleh orang-orang yang berilmu. Bayangkan pada tahun 1926 saat NU dideklarasikan sudah ada sekelompok orang yang mempunyai visi jenial, merumuskan sebuah agenda yang melampaui zamannya. Mustahil bila dilakukan oleh orang-orang yang tidak berilmu. Dalam khazanah keseharian nahdliyyin yang disebut dengan ulama ini seringkali disamakan dengan Kyai.

Sejauh ini ada upaya pengaburan yang luar biasa terhadap eksistensi seorang ulama. Upaya pendiskreditan ulama sudah menjalar dimana-mana. Tidak hanya dalam pentas politik namun juga dalam pentas-pentas kebudayaan modern kita. Lihat saja stereotyping yang dibangun oleh Habiburrahman elShirozy lewat Sinetron Ketika Cinta Bertasbih yang laris ditonton dalam Ramadhan tahun ini. Figur ulama dibelokkan dari “kyai” dalam bahasa sehari-hari NU menjadi Ustadz lulusan Al Azhar Cairo, Mesir. Opini pemirsa digiring untuk mendiskreditkan Haji Samingan ( asalnya adalah Sami’an namun karena niatnya memang melecehkan maka ketidak mampuan melafalkan huruf ‘ain ini dikekalkan menjadi karakter “kyai” bentukan Habiburrahman ) sebagai sosok yang culas, jago hutang, tidak hafal mufrodat tapi mau mengajar agama lewat buku-buku terjemahan. Sebagian kalangan menilai ini adalah kritik Habiburrahman melalui tokoh Haji Samingan yang diperankan Johan Jehan. Tetapi bila dilihat lebih jauh ini adalah stereotyping dimana figur ulama yang pas, otoritatif, dan terpercaya adalah sosok muda, lulusan Al Azhar menggantikan santri-santri lulusan lokal semacam pesantren Langitan, Lirboyo, Sidogiri dsb. Sosok Azzam di KCB sama persis seperti Fahri di AAC dalam melakukan stereotyping ini. Lebih jauh lagi silahkan lihat aktivitas [ baca : kecenderungan politik ] mahasiswa Indonesia di Mesir hari ini maka akan ketahuan arah dari ini semua.

Supaya lebih clear ada baiknya membaca kembali tulisan Zamakhsari Dhofier yang menjelaskan secara panjang lebar bahwa Ulama [ baca : KYAI ] adalah:

  • Sosok yang dianggap mengetahui agama Islam yang dibuktikan dengan tugas-tugas sebagai guru, muballigh, khatib (mewakili komponen ‘alim)
  • Sosok yang berakhlak mulia; sopan, tawaddlu’, ta’addub, sabar, tawakkal, ikhlash (mewakili komponen wiro’i )
  • Sosok yang tidak loba terhadap urusan dunia, tetapi selalu mementingkan kehidupan di akhirat, sikap membiasakan dan mementingkan akhirat (mewakili komponen zuhud). Dalam upaya memperkaya khazanah pemikiran tentang keulamaan/kekyaian ini Gus Mus pernah memberikan rumusan sederhana; bahwa Ulama/Kyai adalah mereka-mereka yang “yandzuruuna ilal ummah bi’ainirrahmah”, senantiasa melihat umatnya dengan mata kasih sayang.

Sumber : https://dunebuggyforsale.org/kickass-commandos-apk/