Syi’ah. Kata syi’ah berarti ‘para pengikut’

Syi’ah. Kata syi’ah berarti ‘para pengikut

Syi’ah. Kata syi’ah berarti ‘para pengikut’ atau para pendukung. Sementara menurut istilah, syi’ah adalah golongan yang menganggap Ali bin Abi Thalib lebih utama daripada khalifah yang sebelumnya, dan berpendapat bahwa al-bhait lebih berhak menjadi khalifah daripada yang lain. Golongan syi’ah terdiri dari berbagai kelompok dan tiap kelompok menilai kelompok yang lain sudah keluar dari islam. Sementara kelompok yang masih eksis hingga sekarang adalah kelompok Itsna ‘asyariyah. Kelompok ini menerima hadits nabawi sebagai salah satu syariat islam. Hanya saja ada perbedaan nmendasar antara kelompok syi’ah ini dengan golongan ahl sunnah (golongan mayoritas umat islam), yaitu dalam hal penetapan hadits. Golongan syi’ah menganggap bahwa sepeninggal Nabi saw mayoritas para sahabat sudah murtad kecuali beberapa orang saja yang menurut menurut mereka masih tetap muslim. Karena itu, golongan syi’ah menolak hadits-hadits yang diriwayatkan oleh mayoritas para sahabat tersebut. Syi’ah hanya menerima hadits-hadits yang diriwayatkan oleh ahli bait saja.

Mu’tazilah. Arti kebahasaan

Mu’tazilah. Arti kebahasaan dari kata Mu’tazilah adala ‘sesuatu yang mengasingkan diri’. Sementara yang dimaksud di sini adalah golongan yang mengasingkan diri mayoritas umat islam karena berpendapat bahawa seorang muslim yang fasiq tidak dapat disebut mukmin atau kafir. Imam Syafi’i menuturkan perdebatannya dengan orang yang menolak sunnah, namun beliau tidak menelaskan siapa arang yang menolak sunah itu. Sementara sumber-sumber yang menerankan sikap Mu’tazilah terhadap sunnah masih terdapat kerancuan, apakah Mu’tazilah menerima sunnah keseluruhan, menolak keseluruhan, atau hanya menerima sebagian sunnah saja. Kelompok Mu’tazilah menerima sunnah seperti halnya umat islam, tetapi mungkin ada beberapa hadits yang mereka kritik apabila hal tersebut berlawanan dengan pemikiran mazhab mereka. Hal ini tidak berarti mereka menolak hadits secara keseluruhan, melainkan hanya menerima hadits yang bertaraf mutawatir saja. Ada beberapa hal yang perlu dicatat tentang inkar as-sunnah klasik yaitu, bahwa inkar as-sunnah klasik kebanyakan masih merupakan pendapat perseorangan dan ha itu muncul akibat ketidaktahuan mereka tentang fungsi dan kedudukan hadits. Karena itu, setelah diberitahu tentang urgensi sunnah, mereka akhirnya menerimanya kembali. Sementara lokasi inkar as-sunnah klasik berada di Irak, Basrah. Di Indonesia, pada dasawarsa tujuh puluhan muncul isu adanya sekelompok muslim yang berpandangan tidak percaya terhadap Sunnah Nabi Muhammad saw. Dan tidak menggunakannya sebagai sumber atau dasar agama Islam. Pada akhir tujuh puluhan, kelompok tersebut tampil secara terang-terangan menyebarkan pahamnya dengan nama, misalnya, Jama’ah al-Islamiah al-Huda, dan Jama’ah al-Quran dan Inkar as-Sunnah, sama-sama hanya menggunakan al-Quran sebagai petunjuk dalam melaksanakan agama Islam, baik dalam masalah akidah maupun hal-hal lainnya. Mereka menolak dan mengingkari sunnah sebagai landasan agama.

Umi Sumbulah (2000:144) mengutip perkataan Imam Syafi’i yang membagi mereka kedalam tiga kelompok, yaitu:

  1. Golongan yang menolak seluruh Sunnah Nabi saw.
  2. Golongan yang menolak Sunnah, kecuali bila sunnah memiliki kesamaan dengan petunjuk al-Quran.
  3. Mereka yang menolak Sunnah yang berstatus Ahad dan hanya menerima Sunnah yang berstatus Mutawatir.

https://haciati.co/