profil menteri agama tahun 2019

profil menteri agama tahun 2019

Riwayat Hidup K.H Masjkur

K.H Masjkur lahir di Singosari, Malang, tahun 1900M / 1315 H.[7] Ia dilahirkan dari pasangan Maksum dan Maemunah. Maksum adalah seorang perantau yang berasal dari sebuah dusun di kaki gunung Muria, Kudus, Jawa Tengah. Ia dating ke Singosari memenuhi perintah ibunya untuk mencari ayahnya yang pergi meninggalkan kampung halaman. Maksum sebagai anak laki-laki yang melajang masa remaja tidak hendak membantah perintah sang ibu. Baginya, apa yang diperintahkan ibunya, merupakan suatu keharusan yang tak dapat dan tak perlu dibantah lagi. Pada masa itu, orang masih belum banyak yang berani keluar kampong halaman, berdagang seorang diri, mengembara di kota orang. Namun ayah Maksum dan teman-temannya meninggalkan desa karena ikut dalam gerakan perlawanan terhadap Belanda. Kemudian, di Singosari, Maksum tinggal di pesantren yang dipimpin Kiai Rohim. Dan menjadi santri di pesantren tersebut. Dalam waktu yang singkat, Maksum sudah menunjukkan bahwa dia adalah seorang santri yang rajin, yang cerdas dan juga tekun serta suka menolong sesame rekannya. Karena itu tidak heran jika Maksum menjadi santri kesayangan Kiai Rohim dan diambil oleh Kiai Rohim untuk dijadikan menantunya., dinikahkan dengan anak perempuannya, Maemunah.[8] Pasangan ini yang akhirnya melahirkan Masjkur bersaudara. Mereka ialah: Masjkur (tertua), Toyib, Hafsah, Barmawi, Toha dan Hassan.
Pada saat usianya sekitar 9 atau 10 tahun, Masjkur diajak oleh ayahnya untuk pergi menunaikan ibadah haji. Setelah kembali dari ibadah hajinya, Masjkur dan ayahnya pergi berziarah dan bertafakur di makam Sunan Giri. Setelah itu, Masjkur memulai proses pendidikannya di dunia pesantren. Ia belajar pada tidak kurang dari tujuh pesantren terkemuka di berbagai daerah dengan konsentrasi keilmuan yang berbeda-beda. Masjkur kecil diantarkan ayahnya ke pesantren Bungkuk Singosari, di bawah pimpinan Kiai Tohir.[9] Selesai belajar di pesantren Bungkuk, Masjkur pindah ke pesantren Sono, yang terletak di Bundaran Sidoarjo, untuk belajar ilmu sharaf dan nahwu. Empat tahun kemudian ia pindah ke pesantren Siwalan Panji, Sidoarjo, untuk belajar ilmu fikih. Selanjutnya, Masjkur pindah ke pesantren Tebuireng Jombang untuk belajar ilmu tafsir dan hadits pada Kiai Hasyim Asy’ari selama dua tahun. Setelah menamatkan pelajaran di Tebuireng, Masjkur berangkat ke pesantren Bangkalan Madura untuk belajar qiraat Al-Qur’an pada Kiai Khalil selama satu tahun. Dan kemudian pindah ke pesantren Jamasaren di Solo.[10]
Selama itu pula, Masjkur mendapat pengalaman bahwa kehidupan di pesantren pada waktu dulu diatur sedemikian rupa oleh kiai masing-masing, sehingga para santri itu selalu saling tolong-menolong baik dalam hal rohani maupun jasmani, lahir dan batin. Mulai dari soal peribadatan, dalam hal belajar, hingga dalam hal tingkah laku, semua diatur dengan sangat baik.
Dari banyak pondok yang sudah ia singgahi, pondok Jamsaren adalah pengalaman yang cukup mengesankan bagi Masjkur. Disana ia berkenalan dengan teman-temannya yang kemudian menjadi ulama terkenal dan pemimpin masyarakat di daerah masing-masing, seperti Kiai Musta’in (Tuban), Kiai Arwan (Kudus), Kiai Abdurrahim (adik dari Kiai Abdul Wahab Hasbullah, Jombang) dan lain-lain.[11]
Pada usianya yang ke-27 tahun, Masjkur menikah dengan cucu Kiai Thohir di Bungkuk tempat dia menjadi santri pertama kali. Tetapi pada waktu yang bersamaan, ayah dari Masjkur meninggal dunia dan dengan sendirinya beban orang tua dilimpahkan kepada bahu Masjkur. Dialah yang bertugas memebesarkan, mengasuh dan menikahkan adik-adiknya. Sejak kecil Masjkur sudah diajarkan hidup sederhana, dan dia menyaksikan sendiri bagaimana kedua orang tuanya hidup tirakat sepanjang ajaran Jawa dan agama Islam. Segala hasil kerja orang tuanya dipergunakan untuk kepentingan anak-anak, agar mereka nanti dapat maju dalam kehidupan.[12] Ajaran kedua orang tuanya tersebut ia terapkan kepada adik-adiknya. Mereka diajari Masjkur hidup serba hemat, apa adanya, rajin dan tetap beribadah kepada Tuhan.

RECENT POSTS