Perkembangan Kemampuan Bermain

Perkembangan Kemampuan Bermain

Perkembangan Kemampuan Bermain

Parten (1932) mengamati perkembangan bermain pada anak. Ia menemukan bahwa pola perkembangan bermain mengambarkan pula perkembangan sosial anak. Ia menemukan lima tingkat perkembangan sebagai berikut :

  1. a)            Bermain Sendiri

Pada mulanya anak asyik bermain sendiri (soliter play). Sifat egosentrisnya yang tinggi menyebabkannya bermain sendiri dan tidak peduli apa yang dimainka teman di sekelilingnya. Misalnya, ia menggunakan balok untuk membuat rumah atau menjadikannya mobil-mobilan.

  1. b)            Bermain secara Paralel dengan Temannya

Pada tahap bermain secara paralel (parallel play) ini anak bermain berdampingan dengan temannya, menggunakan benda-benda yang sejenis, misalnya bermain pasir, tetapi tiap anak bermain sendiri-sendiri. Kadang mereka saling melihat, saling member komentar, atau bercakap-cakap. Tahap ini disebut on looking play.

  1. c)            Bermain dengan Melihat Cara Temannya Bermain

Pada tahap ini anak yang tadinya bermain sendiri mulai melihat apa dan bagaimana temannya bermain. Ia sesekali berhenti bermain dan mengamati temannya bermain lalu menirunya. Tahap ini disebut cooperatve play.

  1. d)            Bermain secara Bersama-sama

Pada tahap ini anak mulai bermain bersama, beramai-ramai. Misalnya salah satu anak menyatakan bermain. “Elang dan anak ayam”, maka salah satu anak akan menjadi burung elang dan anak lain menjadi anak ayam. Burung elang mengejar anak-anak ayam yang berlarian. Tahap ini disebut cooperative play.

  1. e)            Bermain dengan Aturan

Pada tahap ini anak bermain bersama temannya dalam bentuk tim. Mereka menentukan jenis permainan yang akan mereka mainkan, biasanya dalam bentuk game. Mereka juga membicarakan mengenai aturannya, pembagian peran, dan siapa yang akan bermain lebih dahulu. Permainan jenis ini menunjukkan bahwa anak telah memiliki kemampuan sosial. Contoh permainan kooperatif antara lain ialah sepak bola, gobak todor (go back through door), dan bermain peran.

Permainan untuk anak usia dini sebaiknya tidak perlu banyak aturan. Bagi anak yang menurut Piaget perkembangan moralnya masih dalam taraf premoral atau moral realism awal, sulit baginya untuk memahami aturan yang kompleks.