Peran dan Keterampilan Fasilitator

Peran dan Keterampilan Fasilitator

Peran dan Keterampilan Fasilitator

Peran dan Keterampilan Fasilitator
Peran dan Keterampilan Fasilitator

Pemberdayaan masyarakat tak mungkin tercapai tanpa peran dan keterampilan para fasilitator. Dalam istilah asing fasilitator disebut juga sebagai pekerja masyarakat (community worker) atau pengorganisasi masyarakat (community organizer). Mereka sebagai penggerak, yang terdiri dari berbagai disiplin ilmu dan ketrampilan, membantu masyarakat untuk dapat mengartikulasikan kebutuhan mereka, mengidentifikasi masalah serta meningkatkan kemampuan agar dapat menangani permasalahan yang dihadapi dengan efektif. Secara filosofis mereka berperan dalam ”help people to help themselves”. Mereka adalah enabler yang berperan sebagai pemercepat perubahan, memiliki enam fungsi utama :

  1. Membantu masyarakat menyadari dan melihat kondisi mereka;
  2. Membangkitkan dan mengembangkan organisasi/lembaga dalam masyarakat;
  3. Mengembangkan hubungan antar pribadi (interpersonal relation) yang baik;
  4. Memfasilitasi perencanaan yang baik dan efektif;
  5. Membantu pelaksanaan program/rencana kegiatan agar penggunaan sumber daya efektif dan
  6. efisien;
  7. Membantu memonitor dan mengevaluasi perkembangan pelaksanaan kegiatan.

Fasilitator pada hakekatnya adalah suatu profesi, yang berarti memiliki keahlian dalam pengembangan masyarakat, di samping kemungkinan memiliki keahlian teknis tertentu yang dibutuhkan di lingkungan masyarakat. Keterampilan teknis sederhana yang dibutuhkan masyarakat seperti berbagai inovasi pada teknologi tepat guna (TTG). Menurut Mayo (1994) secara umum keterampilan dasar yang harus dikuasai seorang community worker adalah:

  • keterampilan menjalin relasi (engagement skill);
  • keterampilan melakukan penilaian (assessment skill);
  • keterampilan melakukan riset/investigasi;
  • keterampilan membangkitkan dinamika kelompok;
  • keterampilan bernegosiasi;
  • keterampilan berkomunikasi;
  • keterampilan dalam berkonsultasi;
  • keterampilan manajemen (termasuk manajemen waktu dan dana);
  • keterampilan penulisan/pencatatan dan pembuatan laporan;
  • keterampilan melakuikan pantauan dan evaluasi.

Mengenai dimensi dan tingkatan pemberdayaan menurut UNDP (1998) paling tidak ada tiga tingkat atau level yang harus dicapai pada program pemberdayaan, yakni: pertama, pemberdayaan tingkat individu berupa pengembangan potensi dan keterampilan; kedua, pemberdayaan pada tangkat kelompok/organisasi, yang berhubungan dengan peningkatan partisipasi kelompok dalam pembangunan; dan ketiga, pemberdayaan pada tingkat sistem, yakni berwujud meningkatnya kemandirian masyarakar baik secra ekonomis, sosiologis maupun politis.

Sumber : https://synthesisters.com/the-sprout-apk/