Pengertian As-Salam dan Dasar Hukumnya

Pengertian As-Salam dan Dasar Hukumnya

Secara bahasa as-salam  atau as-salaf  berarti pesanan. Secara terminologis para ulama mendefinisikannya dengan: “Menjual suatu barang yang penyerahannya ditunda, atau menjual suatu (barang) yang ciri-cirinya jelas dengan pembayaran modal lebih awal, sedangkan barangnya diserahkan kemudian hari”.

Untuk hal ini para fuqaha (ahli hukum islam) menamainya dengan Al-Mahawi’ij yang artinga “barang mendesak”, sebab dalam jual beli ini barang yang menjadi objek perjanjian jual beli tidak ada ditempat, sementara itu kedua belah pihak telah sepakat untuk melakukan pembayaran terlebih dahulu.

Dalam perjanjian As-Salam ini pihak pembeli barang disebut As-Salam (yang menyerahkan), pihak penjual disebut Al-Muslamuilaihi (orang yang diserahi), dan barang yang dijadikan objek disebut Al-Muslam Fiih (barang yang akan diserahkan), serta harga barang yang diserahkan kepada penjual disebut Ra’su Maalis Salam (modal As-Salam).

Adapun yang menjadi dasar hukum pembolehan perjanjian jual beli dengan pembayaran yang didahulukan ini disandarkan pada surat Al-Baqarah ayat 282:

 

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkannya…”

Disamping itu terdapat juga ketentuan hadis yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim yang artinya berbunyi :

“Siapa yang melakukan salaf, hendaklah melaksanakannya dengan takaran yang jelas dan timbangan yang jelas pula, sampai dengan batas waktu tertentu.

Dari ketentuan hukum diatas, jelas terlihat tentang pembolehan pembayaran yang didahulukan.

Pembiayan salam diutamakan untuk pembelian dan penjualan hasil produksi pertanian, perkebunan, dan peternakan. Petani dan peternak pada umumnya membutuhkan dana untuk modal awal dalam melaksanakan aktivitasnya, sehingga bank syariah dapat memberikan dana pada saat akad. Setelah hasil panen, maka nasabah akan membayar salam kembali. Dengan melakukan transaksi salam, maka petani dan peternak dapat mengambil manfaat tersebut.

Rukun dan Syarat Jual Beli As-Salam

1)      Mu’aqidain : Pembeli (muslam) dan penjual ( muslam ilaih)

  1. Cakap bertindak hukum ( baligh dan berakal sehat).
  2. Muhtar ( tidak dibawah tekanan/paksaan).

2)      Obyek transaksi ( muslam fih):

  1. Dinyatakan jelas jenisnya
  2. Jelas sifat-sifatnya
  3. Jelas ukurannya
  4. Jelas batas waktunya
  5. Tempat penyerahan dinyatakan secara jelas

3)      Sighat ‘ijab dan qabul

4)      Alat tukar/harga

  1. Jelas dan terukur
  2. Disetujui kedua pihak
  3. Diserahkan tunai/cash ketika akad berlangsung

Sumber: https://multiply.co.id/