Pengembangan Sikap Apresiatif Seni Rupa

Pengembangan Sikap Apresiatif Seni Rupa

Pengembangan Sikap Apresiatif Seni Rupa

Pengembangan Sikap Apresiatif Seni Rupa
Pengembangan Sikap Apresiatif Seni Rupa

Apresiasi seni rupa

merupakan aktivitas mengindra karya seni rupa, menikmati, merasakan, menghayati dan menghargai nilai-nilai keindahan dalam karya seni, selain itu menghormati keberagaman konsep, dan juga variasi konvensi artistik eksistensi dunia seni rupa. Secara teoretik apresiasi seni memiliki tiga domain, yakni (1) perasaan (feeling), dalam konteks ini terkait dengan perasaan keindahan, (2) penilaian (valuing) terkait dengan nilai seni, dan (3) empati (emphatizing), terkait dengan sikap hormat kita kepada dunia seni rupa, termasuk pula kepada profesi perupa (pelukis, pepatung, pedesain, pegrafis, pekeramik, pekria, dan lain-lain). Hal itu karena kita menyadari peran dan kontribusi para seniman tersebut bagi masyarakat, bagi bangsa dan negara, atau bagi nilai-nilai kemanusiaan secara umum.

Pengalaman personal dalam mengamati karya seni

dilakukan dengan mengamati suatu lukisan yang dipajang di depan kelas. Siswa lalu menceritakan hasil pengindraannya, reaksinya, respons pribadinya, analisis dan penafsiran serta evaluasinya terhadap lukisan tersebut secara lisan. Kemudian mendiskusikannya di kelas dengan panduan guru yang berperan sebagai moderator. Kemudian hasil catatan dari notulen atau rekaman atas kemampuan berapresiasi seni rupa yang dilakukan secara lisan dan hasil diskusi tersebut, disempurnakan lagi oleh siswa dan dikonversi ke bentuk karya tulis dengan bahasa Indonesia yang komunikatif, sistematis, dan lugas.

Pengembangan sikap apresiatif seni rupa

pada hakikatnya adalah bahwa semua manusia dianugerahi oleh Tuhan apa yang disebut “sense of beauty”, yang berarti “rasa keindahan”. Meskipun ukuran rasa keindahan tidak sama pada setiap orang, jelas setiap manusia secara sadar atau tidak telah menerapkan rasa keindahan ini dalam kehidupan sehari-harinya. Misalnya ketika kita memantaskan diri dalam berpakaian, memilih sepatu, memilih dasi, dan berdandan. Rasa keindahan senantiasa berperan memandu prilaku kita untuk memilih dan memilah apa yang kita anggap menampilkan citra harmonis, penampilan citra harmonis pada umumnya kita sebut gagah, tampan, cantik, ayu, rapi dalam bahasa sehari-hari, yaitu penggunaan kata lain untuk menyebut fenomena keindahan. Demikian pula dalam melengkapi kebutuhan hidup, kita senantiasa dipandu oleh rasa keindahan.

Katakanlah dalam menata arsi­tekt­ur rumah tinggal

memilih perabotan untuk rumah tangga, otomotif, televisi, kulkas, sampai kepada pembelian pi­ring, sendok, garpu, dan segala macam barang yang kita gunakan sehari-hari di perkotaan. Demikian pula pada kehidupan di pedesaan, hampir semua benda yang dibutuhkan memiliki kaitan dengan rasa keindahan dan seni, seperti kain tenun, keris, batik, keramik, perhiasan, ornamen, busana, alat musik, dan lain-lain.

Hal tersebut tidak berbeda dengan masyarakat di daerah pedalaman, sesederhana apapun tingkat kehidupan manusia, dalam perlengkapan dan peralatan hidupnya, seperti busana, tata rias, tari-tarian, musik, motif ornamen, dan banyak lagi karya-karya seni etnik yang sangat indah dan mengagumkan. Dengan uraian ini, jelaslah bahwa seni terdapat di mana-mana. Itulah yang menyebabkan kesenian secara antropologis ditempatkan sebagai unsur kebudayaan yang universal, sama seperti rasa keindahan yang juga memiliki sifat universal.

Tingkat kepekaan terhadap perasaan keindahan akan berkembang lewat kegiatan menerima (sikap terbuka) pada semua manifestasi seni rupa, mengapresiasi aspek keindahan beserta maknanya (seni lukis, seni grafis, desain, seni patung, dan kria) menghargai aspek keindahan dan kegunaannya (desain produk atau industri, desain komunikasi visual, desain interior, desain tekstil, dan berbagai karya kria (kria keramik, tekstil, kulit, logam kayu, dan lain-lain). Melalui proses penginderaan, kita mendapatkan pengalaman estetis. Dari proses penghayatan yang intens, kita akan dapat mengamalkan rasa keindahan yang dianugerahkan Tuhan itu dalam kehidupan sehari-hari.

Kemampuan mengamati karya seni rupa murni dan seni rupa terapan, dalam arti praktis adalah kemampuan mengklasifikasi, mendeskripsi, menjelaskan, menganalisis, mengevaluasi dan menyimpulkan ari dan makna karya seni. Aktivitas ini dapat dilatihkan sebagai kemampuan apresiatif secara lisan maupun tulisan.

Aktivitas pendukung, seperti membaca teori-teori tentang seni, termasuk sejarah seni dan reputasi seniman, dialog bersama tokoh seniman serta budayawan, merupakan pelengkap kemampuan berapresiasi, sehingga para siswa dapat menyampaikan argumentasi yang logis dalam meyimpulkan makna seni.

Secara psikologis pengalaman pengindraan karya seni itu berurutan dimulai dari reaksi panca indra kita mengamati seni (sensasi), rasa keindahan (emosi), kesan pencerapan (impresi), penafsiran makna seni (interpretasi), menerima dan menghargai makna seni (apresiasi), dan menyimpulkan nilai seni (evaluasi). Aktivitas ini berlangsung saat seseorang insan mengindra karya seni, biasanya sensasi tersebut diikuti dengan aktivitas positif berasosiasi, melakukan komparasi, analogi, diferensiasi, dan sintesis. Pada umumnya. karya seni yang baik akan dapat memberikan kepuasan spiritual dan intelektual bagi insan pengamatnya.

(Sumber: https://thesrirachacookbook.com/)