OWA IPB Kenalkan Cara Mudah Dapatkan Data Tanpa Turun ke Lapang

OWA IPB Kenalkan Cara Mudah Dapatkan Data Tanpa Turun ke Lapang

OWA IPB Kenalkan Cara Mudah Dapatkan Data Tanpa Turun ke Lapang

OWA IPB Kenalkan Cara Mudah Dapatkan Data Tanpa Turun ke Lapang
OWA IPB Kenalkan Cara Mudah Dapatkan Data Tanpa Turun ke Lapang

Menulis skripsi di kalangan mahasiswa sering terkendala oleh data yang harus mereka kumpulkan.

Masalahnya beragam, mulai dari ketidakcocokan data dengan literasi sampai penggunaan metode pengumpulan yang salah. Mengambil data ke lapang terkadang jarang dilakukan mahasiswa karena terkendala jarak dan dana.

Oleh karena itu, komunitas Observasi Wahana Alam (OWA), di bawah Himpunan Mahasiswa Biologi, Institut Pertanian Bogor (IPB) mengundang Tambora Muda, sebuah komunitas yang membuat sumber data terpusat, terpercaya dan up to date. Mahasiswa tidak perlu lagi mencari data ke lapangan, karena datanya sudah bisa diakses lewat internet.

Untuk mensosialisasikan temuan tersebut, keduanya menggelar workshop bertemakan “Biodiversity Occurrence Data & Its Application” yang digelar di Ruang Baca Departemen Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Kampus IPB Dramaga, Bogor (15/12). Workshop ini bertujuan untuk mengenalkan pengolahan data tentang keanekaragaman hayati kepada mahasiswa.

Tambora Muda sendiri merupakan komunitas yang peduli terhadap informasi

keanekaragaman hayati yang beredar di masyarakat. Komunitas ini menjadi tempat berkumpul semua pemuda yang berminat di dunia konservasi Indonesia. Beberapa hal yang sudah dilakukan oleh Tambora Muda adalah pelayanan pengecekan karya tulis, penerbitan majalah, dan penyelenggaraan seminar serta workshop.

Menurut Pramita Indrarini, Kepala Humas Tambora Muda, akses untuk data keanekaragaman hayati semakin meningkat dari tahun ke tahun. Global Biodiversity Information Facility (GBIF) adalah organisasi internasional yang fokus kepada informasi mengenai keanekaragaman hayati dan menjadi salah satu sumber data terpercaya.

Selain itu, menurutnya sumber terpercaya lainnya yang dapat dipakai sebagai data keanekaragaman hayati adalah skripsi dari mahasiswa. Namun mengambil data dari skripsi memiliki kendala yakni sebagian besar mahasiswa tidak memiliki rasa percaya diri untuk mengajukan skripsinya menjadi paper atau jurnal.

“Tidak semua orang mau mempublikasikan skripsi mereka menjadi sebuah paper atau jurnal.

Akibatnya skripsi mereka sulit diakses. Tambora Muda menyiasati hal tersebut dengan mengadakan program Biodiverskripsi. Yaitu mengumpulkan skripsi mahasiswa sebagai data keanekaragaman di Indonesia. Kami sekarang sedang melakukan uji website,” ujarnya.

Acara ini tidak hanya mengenalkan pentingnya data keanekaragaman hayati saja tetapi juga melatih peserta (mahasiswa IPB) cara mengolah data dengan menggunakan situs dari GBIF sebagai sumber data. Hal ini bertujuan agar mahasiswa tidak bingung lagi dalam mencari data penelitian, terutama dalam bidang keanekaragaman hayati.

“Dengan cara ini, kita tidak perlu repot-repot lagi ke lapang untuk mencari data,” tandasnya.

 

Sumber :

https://www.sudoway.id/