Lemahnya Argumen Para Penginkar as-Sunnah

Lemahnya Argumen Para Penginkar as-Sunnah

Ternyata argumen yang dijadikan sebagai dasar pijakan bagi para penginkar as-sunnah memiliki banyak kelemahan, diantaranya:

  1. Ppada pemahaman ayat Q.S. an-Nahl ayat 89 yang merupakan salah satu landasan bagi kelompok inkar as-sunnah untuk menolak sunnah secara keseluruhan. Menurut asy-Syafi’i ayat tersebut menjelaskan adanya kewajiban tertentu yang sifatnya global, seperti dalam kewajiban shalat, dalam hal ini fungsi hadits adalah menerangkan secara teknis tata cara pelaksanaannya. Dengan demikian surat an-Nahl sama sekali tidak menolak hadits sebagai salah satu sumber ajaran. Bahkan ayat tersebut menekankan pentingnya hadits.
  2. Surat Yunus ayat 36 yang dijadikan sebagai dalil mereka menolak hadits ahad sebagai hujjan dan menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan istilah dzhanni adalah tentang keyakinan yang menyekutukan Tuhan. Keyakinan itu berdasarkan khayalan belaka dan tidak dapat dibuktikan kebenarannya secara ilmiah. Keyakinan yang dinyatakan sebagai dzhanni pada ayat tersebut sama sekali tidak ada hubungannya dan tidak ada kesamaannya dengan tingkat kebenaran hasil penelitian kualitas hadits.

Keshahihan hadits ahad bukan didasarkan pada khayalan melainkan didasarkan pada metodologi yang dapat dipertanggung jawabkan.

  1. Argumen-Argumen naqli yang dimaksud dengan argumen naqli yaitu berupa ayat-ayat al-Quran atau Sunnah. Kedua firman Allah tersebut diartikan bahwa al-Quran memuat segala sesuatu mengenal Agama beserta hukum-hukumnya dan al-Quran menjelaskan dan merincinya sehingga yang lain tidak diperlukan.
  2. Argumen non-naqli yang dimaksud dengan argumen-argumen non-aq1i adalah argumen – argumen yang tidak berupa ayat al-Quran atau hadits, tetapi berdasarkan Al-Quran dan pemikiran rnereka sendiri. Diantara argumen non-aqli itu yaitu: diwahyukan oleh Allah kepada Nabi Muhammad (melalui malaikat jibril) dalam bahasa arab. Orang yang memiliki pengetahuan bahasa Arab mampu memahami al-Quran secara langsung tanpa bantuan penjelasan dari hadits Nabi. Dengan asal demikian hadits Nabi tidak diperlukan untuk memahami petunjuk al-Quran. mula hadits Nabi yang dihimpun dalam kitab-kitab hadits adalah dongeng¬ dongeng.

Menurut pengingkaran penataan hadits, terjadi setelah  Nabi wafat. semata. sunnah, kritik sanad yang terkenal dalam ilmu hadits sangat lemah untuk menentukan keshahihan hadits dengan alasan sebagai berikut:

  • Dasar kritik sanad itu yang dalam ilmu hadits dikenal dengan istilah ” Ilmu al-Jarhu wa at-Ta’dil (ilmu yang membahas ketercelaan dan keterpujian para periwayat hadits)”, baru setelah atau setengah Nabi wafat.
  • Seluruh sahabat Nabi sebagai periwayat hadits pada generasi pertama dinilai adil oleh ulama hadits pada akhir abad ketiga dan awal abad keempat hijriah.

Pokok-Pokok Ajaran Aliran Sesat Inkar as-Sunnah

  1. Tentang dua kalimat syahadat. Mereka tidak mengaku 2 kalimat syahadat karena tidak ada dalam al-Quran dan syahadat mereka “Isyhadu biannana muslimin.”
  2. Tentang shalat. Cara mereka mengerjakan shalat bermacam-macam, yaitu:
  3. Ada yang mengerjakan shalat seperti biasa, dan kelompok ini terdiri dari orang-orang yang baru mengikuti pengajaran mereka dan untuk mempengaruhi orang lain agar mau mengikuti pengajaran mereka.
  4. Ada yang shalatnya rata-rata dua rakaat, tetapi bacaannya berbeda-beda ada yang seperti biasa (bahasa Arab), ada yang seluruhnnya bacaanya dari awal sampai akhir bahasa Indonesia karena menurut mereka karena Allah mengerti seluruh bahasa dan ada pula yang bacaannya”. QS. Al-Fatihah: 5 إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ “ Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan “.
  5. Ada yang shalatnya sebanyak-banyaknya, selagi mampu
  6. Ada yang shalatnya bila ingat saja, dan lain-lain
  7. Tentang puasa di bulan Ramadhan. Dalam hal puasa ramadhan meraka pun tidak sependapat. Bagi yang baru mereka berpuasa seperti kita, tetapi kalau sudah kuat dan paham inkar as-sunnahnya mereka hanya mengikuti wajibnya puasa saja. Adapun hari dan bulannya meraka mengingkari dengan alasan tidak ditentukan dalam al-Quran makanya mereka tidak mengakui puasa Ramadhan karena tidak ada keterangan ayat al-Quran. Yang di wajibkan berpuasa adalah orang-orang yang menyaksikan (melihat) bulan, dan yang tidak wajib puasa.

Baca juga: