Kecerdasan Nabi Ibrahim a.s

Kecerdasan Nabi Ibrahim a.s

Ibrahim a.s. adalah anak yang terlalu cerdas. Kecerdasannya ini telah nampak disaat usianya masih kanak-kanak. Allah SWT menganugerahkan akal yang senantiasa berpikir dan kebijaksanaan dalam kalbunya.

Ayahnya yang bernama Azar adalah seorang pembuat patung untuk dijadikan sesembahan. Ada pula yang menyebutkan bahwa Azar adalah pamannya yang telah diakui sebagai ayahnya sendiri.

Konon, Azar adalah nama berhala yang paling populer di antara berhala-berhala lain buatannya. Profesi ayahnya sebagai pemahat patung sesembahan mengangkat keluarganya jadi keluarga terpandang dan terhormat di mata masyarakat kala itu. Dari iklim kesyirikan inilah Ibrahim mungil dilahirkan.

Meskipun demikian, Allah SWT senantiasa merawat fitrah dan kesucian akal serta kalbu Ibrahim kecil. Hingga suatu hari, Ibrahim kecil bermain bersama dengan patung-patung buatan ayahnya bersama dengan menaikinya layaknya tengah bermain kuda-kudaan.

Alangkah terperanjat ayahnya disaat memergoki putranya bermain bersama dengan “tuhan-tuhan” yang diagungkan oleh kaumnya. la pun marah besar dan melarang Ibrahim kecil memainkan patung-patungnya. Dengan penuh kepolosan, Ibrahim kecil bertanya, “Patung apa ini, Ayah? Kedua telinganya terlalu besar, lebih besar daripada telinga kita.”

Ayahnya menjawab, “la adalah pemimpin dari lebih dari satu tuhan yang ada, Nak. Dua telinga yang besar ini sebagai simbol atas pengetahuannya yang terlalu dalam.”

Namun, di balik kepolosannya, ia telah paham bahwa penjelasan ayahnya adalah kekonyolan belaka. la pun bersusah payah menghindar tawa, padahal kala itu ia baru berumur tujuh tahun.

Dikisahkan dalam kitab Injil Barnabas, bagaimana Ibrahim kecil mematahkan argumentasi ayahnya perihal ketuhanan berhala. la menanyakan kepada ayahnya, “Siapakah yang menciptakan manusia, Ayah?”

Ayahnya menjawab, “Yang menciptakan manusia adalah manusia. Aku telah menciptakanmu. Dan ayahku telah menciptakanku.”

Ibrahim kecil membantah, “Bukan begitu, Yah. Aku dulu mendengar tersedia orang tua yang mengidamkan punyai seorang anak. la berkata, Tuhanku, mengapa engkau tidak memberiku anak?”

“Benar, Nak. Allah membantu manusia untuk mengakibatkan manusia, namun Allah tidak segera mengakibatkan manusia,” tandas pemahat patung tersebut.

Ibrahim kecil menanyakan kembali, “Ayah, berapa kuantitas tuhan di sana?”
“Tidak terhitung, Anakku,” jawabnya.

Pertanyaan cerdas yang menggelitik logika kembali meluncur dari mulut Ibrahim, “Apa yang mesti kulakukan jika saya mengidamkan mengabdi kepada tidak benar satu tuhan, kemudian tuhan yang lain berbuat jahat kepadaku gara-gara saya tidak mengabdi kepadanya? Apa yang berjalan jika timbul permusuhan di antara tuhan-tuhan itu? Apa yang berjalan jika tuhan membunuh tuhan lain yang berbuat jahat kepadaku? Apa yang mesti kulakukan, Ayah? Kelihatannya tuhan yang itu juga bakal membunuhku.”

“Nak, jangan takut. Tuhan-tuhan itu tidak bakal saling bermusuhan. Di tempat peribadatan tersedia berjuta-juta tuhan dan di sampingnya tersedia tuhan yang terlalu besar. Dia adalah dewa tuhan. Sampai sekarang dia telah berumur tujuh puluh tahun. Meskipun demikian, Ayah belum dulu memandang tuhan-tuhan saling berkelahi,” paham ayahnya yang mungkin jadi penjelasan itu masuk akal untuk menuntaskan rasa penasaran putranya.

“Jadi, di antara mereka telah tersedia kesepakatan?” Ibrahim meminta penegasan.

“Benar, di sana tersedia kesepakatan,” timpal ayahnya kembali.

Azar memberi penjelasan perihal suasana patung-patungnya yang tidak dulu berkelahi. Tentu saja mereka demikian, toh, mereka cuman benda mati saja.

Kemudian di antara mereka telah tersedia kesepakatan seolah-olah mereka mengadakan forum diskusi dan musyawarah untuk perihal itu. Inilah yang dijadikan pertanyaan sesudah itu oleh Ibrahim untuk meluruskan pemikiran ayahnya, “Dari bahan apa tuhan-tuhan itu dibuat?”

Dengan bangga ayahnya menjelaskan, “Tuhan ini dari kayu kurma, itu dari kayu zaitun, dan tuhan yang kecil itu dari gading gajah. Lihatlah, Nak, betapa indahnya tuhan itu. Tidak tersedia yang kurang darinya jika bernapas.”

Tepat sekali! Kata-kata itu meluncur sendiri dari bibir bapak Ibrahim yang dengannya ia telah paham bahwa tuhan buatannya ternyata punyai kekurangan.

Ibrahim kemudian pakai perkataan ayahnya, “Jika tidak tersedia tuhan yang bernapas, bagaimana mereka beri tambahan napas? Jika tidak tersedia tuhan yang hidup, bagaimana mereka beri tambahan kehidupan? Seharusnya mereka bukan tuhan, Ayah!”

Pukulan telak membuat bapak Ibrahim. Menurut logika saja kebiasaan menyembah berhala tidak masuk akal. Bagaimana mungkin seorang yang berakal mengakibatkan patung bersama dengan tangannya sendiri, kemudian dijadikan tuhan untuk disembahnya.

Ibrahim melanjutkan, “Jika tuhan membantu mengakibatkan manusia, bagaimana mungkin manusia dapat mengakibatkan tuhan? Jika tuhan terbuat dari kayu maka membakar kayu adalah sebuah kesalahan besar. Katakanlah kepadaku, mengapa Ayah membantu tuhan mengakibatkan tuhan? Mengapa Ayah mengakibatkan lebih dari satu tuhan yang besar? Mengapa tuhan tidak membantu Ayah untuk mengakibatkan anak yang banyak supaya Ayah jadi orang yang paling kuat di negeri ini?”

Kemurkaan ayahnya mengakhiri dialog antara dia dan putranya tersebut. Betapa mata hati telah dibutakan oleh prasangka dan nafsu semata supaya kebenaran yang nampak malah diakui sebagai kesesatan.

Tahun demi th. berlalu. Kini Ibrahim telah tumbuh jadi sosok remaja. la masih membenci kebiasaan kaumnya menyembah berhala.

Awalnya, tingkah laku mereka layaknya sebuah lelucon bagi Ibrahim. Namun, kini kebenciannya terhadap berhala makin lama memuncak supaya jadi amarah dalam jiwanya.

Bagaimana tidak, semua kaumnya tertipu oleh benda mati yang tidak dapat bicara, makan, atau minum. Ditambah lagi, ayahnya makin lama gencar mengajak Ibrahim untuk jadi pendeta di antara mereka bersama dengan memuliakan patung-patung dalam kuil. Tentu saja perihal ini mengakibatkan Ibrahim makin lama gencar membantah dan menghinakan mereka.

Pernah suatu saat, disaat Ibrahim diajak oleh ayahnya ke pesta perayaan dewa-dewa di sebuah kuil, ia memandang seorang pendeta merengek-rengek di depan patung terbesar di sana.

Pendeta itu memohon supaya patung besar itu memberinya rezeki dan kasih sayang kepada kaumnya. Ibrahim segera menegurnya, “Sesungguhnya ia tidak mendengarmu, Pendeta. Apakah Anda tidak paham bahwa ia tidak dapat mendengar?”

Kekhidmatan pesta segera buyar mendengar seruan Ibrahim tersebut. Wajah pendeta itu jadi gusar gara-gara marah. Azar segera meminta maaf atas perbuatan putranya bersama dengan menyebutkan bahwa anaknya tengah sakit dan tidak paham apa yang diucapkannya. Kemudian mereka berdua begegas pergi meninggalkan kuil peribadatan.

Kegigihan Ibrahim a.s. untuk menyadarkan umatnya tidak cuma sampai di situ. Dalam perenungan yang mendalam, ia memandangi langit yang dipenuhi bintang-bintang. Kaumnya tidak cuma penyembah berhala. Mereka juga dibebaskan untuk menyembah bintang-bintang atau menyembah sang raja.

Akhirnya, Ibrahim menempuh jalur halus dan penuh kasih sayang kepada umatnya bersama dengan tunjukkan sebuah fakta bahwa benda-benda langit itu adalah milik-Nya dan beredar cocok bersama dengan kehendak-Nya.

Allah SWT menceritakan kisah Ibrahim a.s. di dalam Al-Qur’an sebagai berikut: “Dan (ingatlah) disaat Ibrahim berkata kepada ayahnya, Azar, “Pantaskah engkau menjadikan berhala-berhala itu seba%ai tuhan? Sesungguhnya saya meiihat engkau dan kaummu dalam kesesatan yang nyata.” Dan demikianlah Kami mem-perlihatkan kepado Ibrahim kekuasaan (Kami yang terdapat) di langit don di bumi, dan supaya dia juga orang-orang yang yakin. Ketika maiam telah jadi gelap, dia (Ibrahim) memandang sebuah bintang (ialu) dia berkata, “Inilah Tuhanku.” Maka disaat bintang itu terbenam dia berkata, “Aku tidak puas kepada yang terbenam.” (QS Al-An’am [6]: 74-76)

Ahmad Bahjat menyebutkan dalam bukunya bahwa Ibrahim a.s. mengumumkan perihal penuhanan ke-pada bintang-bintang ini di hadapan kaumnya. Tidak dijelaskan dalam Al-Qur’an bagaimana reaksi kaumnya terhadap pernyataan Ibrahim a.s. tersebut.

Namun, sepertinya mereka adalah kaum yang dungu dan tidak paham arti di balik pengumuman Ibrahim a.s. bahwa bintang-bintang yang mereka sembah ternyata tenggelam juga. Bagaimana mungkin tuhan dapat terbit dan tenggelam?

Pada malam kedua, Ibrahim a.s. kembali mengumumkan kepada kaumnya bahwa rembulan adalah tuhannya, sebagaimana firman Allah SWT, “Lain disaat dia memandang bulan terbit dia berkata, “Inilah Tuhanku.” Tetapi disaat bulan itu terbenam dia berkata, “Sungguh, jika Tuhanku tidak memberi panduan kepadaku, pastilah saya juga orang-orang yang sesat.” (QS Al-An’am [6]: 77)

Ibrahim a.s. kembali menggugah kesadaran mereka perihal bulan yang juga terbit dan tenggelam. Pantaskah tuhan yang layaknya itu disembah?

Melalui pertanyaan itu, Ibrahim a.s. tunjukkan bahwa ia punyai Tuhan di luar tuhan-tuhan yang mereka sembah. la telah mengikrarkan penolakan terhadap ketuhanan bulan untuk menghancurkan akidah kaumnya yang sesat bersama dengan langkah halus. Namun, semua itu tidak dimengerti pula oleh kaumnya yang menyembah matahari, bulan, dan bintang.

Kemudian ia mengajukan argumentasinya yang terakhir, “Kemudian disaat dia memandang matahari terbit, dia berkata, “Inilah Tuhanku, ini lebih besar.” Tetapi disaat matahari terbenam, dia berkata, “Wahai kaumku! Sungguh, saya berlepas diri dari apa yang anda persekutukan.” Aku hadapkan wajahku kepada (Allah) yang menciptakan langit dan bumi bersama dengan penuh kepasrahan (mengikuti) agama yang benar, dan saya bukanlah juga orang-orang musyrik.” (QS Al-An’am [6]: 78-79)

Penyangkalan Ibrahim a.s. atas akidah ketuhanan matahari adalah akhir dari perjalanan rohaninya dalam tunjukkan keberadaan Sang Pencipta langit dan bumi. Mereka yang menyembah matahari tidak jadi bahwa yang mereka sembah cuman makhluk ciptaan Allah SWT.

Matahari sebenarnya terlalu besar, namun Sang Penciptalah Yang Maha besar. Hati mereka senantiasa tidak tersentuh, bahkan mereka tunjukkan perlawanan atas kebenaran yang ditunjukkan Ibrahim a.s

“Dan kaumnya membantahnya. Dia (Ibrahim) berkata, “Apakah anda hendak membantahku perihal Allah, padahal Dia terlalu telah memberi panduan kepadaku? Aku tidak kuatir kepada (malapetaka dari) apa yang anda persekutukan bersama dengan Allah, jika Tuhanku meminta sesuatu. Ilmu Tuhanku meliputi segala sesuatu. Tidakkah anda dapat menyita pelajaran? Bagaimana saya kuatir kepada apa yang anda persekutukan (dengan Allah), padahal anda tidak kuatir bersama dengan apa yang Atlah sendiri tidak menurunkon keterangan kepadamu untuk mempersekutukan-Nya. Manakah dari ke-2 golongan itu yang lebih berhak mendapat keamanan (dari malapetaka) jika anda mengetahui?” (QS. Al-An’am [6]: 80-81)

Al-Qur’an tidak menyebutkan bagaimana wujud perlawanan mereka terhadap Ibrahim a.s. Namun, Al-Qur’an lebih memaparkan terhadap jawaban Ibrahim a.s terhadap bantahan mereka, yaitu ia tidak kuatir kepada mereka sedikit pun dan menyebutkan golongan mana yang lebih berhak beroleh keamanan dari bencana, “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka bersama dengan syirik, mereka itulah orang-orang yang mendapat rasa aman dan mereka mendapat petunjuk.” (QS. Al-An’am [6]: 82)

Demikianlah Ibrahim a.s. menghadapi kaum penyembah matahari, bintang, dan bulan. Melalui bukti-bukti kekuasaan Allah SWT, ia mengajak kaumnya berpikir bersama dengan jernih bahwa cuma AUah SWT yang berhak disembah. Melalui akal yang berpikirlah kebenaran bakal terlihat jelas.

Setelah berlepas diri dari kaum yang menyembah benda-benda langit tersebut, kini ia mesti berhadapan bersama dengan ayahnya sendiri bersama dengan kaumnya sesama penyembah berhala. Usaha untuk mengakses cakrawala berpikir kaumnya senantiasa mengalami jalur buntu gara-gara akidah mereka telah jadi kebiasaan yang menempel dalam jiwa mereka turun-temurun.

Namun akhirnya, Ibrahim a.s. mendapatkan ide cerdas. la paham bahwa bakal diselenggarakan upacara pesta besar-besaran di tepi sungai dan semua orang di kota bakal berangkat ke sana. Pada suasana yang sepi inilah Ibrahim a.s. punyai peluang untuk menggerakkan rancangan jitunya sampai sebelum para masyarakat kota kembali.

Dengan sebilah kapak di tangannya, Ibrahim a.s. menyusuri jalan-jalan kota yang sepi menuju kuil peribadatan. Setibanya di sana, dipandanginya berhala-berhala yang terbuat dari kayu dan batu.

Lalu, pandangannya berubah terhadap makanan-makanan yang di letakkan di bawah para berhala sebagai nazar atau hadiah. la mendekati tidak benar satu berhala yang paling besar seraya bertanya, “Makanan yang tersedia di hadapanmu telah dingin, mengapa engkau tidak memakannya?”

Berhala itu diam tak bergera. Tentu saja! Kemudian Ibrahim a.s. menanyakan kepada berhala-berhala yang tersedia di sekitarnya, “Apakah anda tidak makan?”

la hendak mengejek mereka gara-gara ia paham bahwa berhala-berhala itu tidak mungkin menjawab per-tanyaannya. “Kenapa anda tidak menjawab?” lanjutnya.

Dengan tangan kanannya yang kuat, ia mengayunkan kapaknya kepada berhala-berhala yang tersedia di dalam kuil. Seluruh berhala hancur lebur oleh kapak Ibrahim a.s. jika satu, yaitu berhala yang paling besar ukurannya. Kemudian ia mengalungkan kapaknya di leher berhala besar selanjutnya sambil tunggu reaksi kaumnya yang sesat.

Benarlah, disaat upacara pesta dewa-dewa selesai dan mereka kembali ke kota, seseorang di dalam kuil menjerit memandang tuhan-tuhannya telah hancur berantakan. Orang-orang pun berdatangan ke arah sumber jeritan dan terperanjat memandang moment yang terlalu memilukan bagi mereka.

Pelakunya terlalu mudah ditebak. Mereka berkata, “Kami dengar tersedia seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim.”

Salah seorang dari mereka berseru, “Seret dia kemari supaya semua orang menyaksikannya!”

Ketika Ibrahim a.s. berada di tengah-tengah mereka, ia pun ditanya, “Apakah anda yang jalankan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim?”

Dengan santai Ibrahim a.s. menjawab, “Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya, tanyakanlah kepada berhala itu jika ia dapat berbicara,” ujar Ibrahim a.s seraya menunjuk patung yang dimaksud.

Mereka pun memandang bahwa terhadap berhala terbesar mereka telah dikalungkan kapak yang digunakan untuk menghancurkan berhala-berhala mereka. Mereka bingung dibuatnya. Satu sisi mereka tidak mengidamkan kebodohan mereka terbuka, namun di sisi lain mereka menghadapi kenyataan bahwa berhala mereka tidak mungkin jalankan perihal yang dituduhkan Ibrahim a.s.

“Sesungguhnya anda sekalian adalah orang-orang yang menganiaya diri sendiri, malah Ibrahim a.s. yang tersenyum penuh kemenangan. la paham kaumnya tidak bakal dapat mengelak bahwa tuhannya cuman benda mati yang tidak dapat berbuat apa-apa.

Dengan kepala tertunduk mereka berkata, “Sesungguhnya kamu, hai Ibrahim, telah paham bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara.”

Ibrahim berkata, “Lalu mengapa anda menyembah tak sekedar Allah suatu hal yang tidak dapat memberi faedah sedikit pun dan tidak pula memberi mudharat kepada kamu? Ah, celakalah anda dan apa yang anda sembah tak sekedar Allah. Apakah anda tidak memahami?”

Akan tetapi, bukan tobat yang mereka lakukan, mereka malah jadi terhina akibat ulah Ibrahim a.s tersebut. Mereka pun menghasut teman-temannya sesama penyembah berhala, “Lemparkan saja Ibrahim ke dalam api yang menyala jika kalian hendak membantu tuhan-tuhan kalian!”

Mereka pun segera mengumpulkan kayu bakar dan menumpuknya. Ibrahim a.s. diseret ke tengah-tengah tumpukan kayu, kemudian mereka menyulut kayu selanjutnya bersama dengan api. Dengan serta-merta api pun berkobar dahsyat melalap tubuh Ibrahim a.s.

Namun, Allah SWT berkehendak lain. Dengan seizin-Nya api selanjutnya jadi dingin dan serupa sekali tidak menyentuh busana bahkan kulit mulia Ibrahim a.s.

Sementara itu, para pendeta, tokoh-tokoh penting, dan para masyarakat mengitari api besar yang menjilat-jilat itu. Terkadang percikan api perihal busana mereka dan menghanguskan lebih dari satu bagiannya. Wajah mereka pun menghitam akibat terkena kepulan asap yang mengepul tebal. Mereka jadi puas gara-gara disangkanya Ibrahim a.s. telah hangus terpanggang api yang berkobar-kobar.

Ketika semua kayu terbakar, api pun meredup. Sungguh mukjizat telah berjalan di depan mata mereka. Ibrahim a.s. turun dari sisa-sisa arang kayu dalam keadaaan bersih, sehat, tanpa luka sedikit pun.

Orang-orang bersama dengan muka hitam gosong terperangah dan terpana. Mereka memandang bahwa Allah SWT, Tuhan yang semestinya mereka sembah telah membantu utusannya jika Dia sebenarnya menghendakinya.

Akhirnya, peringatan Ibrahim a.s kepada kaumnya berujung terhadap kemarahan mereka, padahal mereka sendiri paham bahwa penyembahan terhadap berhala adalah pembodohan belaka. Benarlah jika seseorang tidak pakai akal pikirannya bersama dengan jernih, bakal berujungpadakesesatan.

Kisah Ibrahim a.s. ini diabadikan dalam Al-Qur’an, antara lain Surat Al-Anbiya’ [21]: 60-69 dan Surat Ash-Shaffat[37]:91-98.

Sumber : https://tokoh.co.id/

Baca Juga :