ISU RASISME DALAM POLITIK AUSTRALIA

ISU RASISME DALAM POLITIK AUSTRALIA

ISU RASISME DALAM POLITIK AUSTRALIA

ISU RASISME DALAM POLITIK AUSTRALIA
ISU RASISME DALAM POLITIK AUSTRALIA

Rasisme adalah serangkaian sikap, kecenderungan, pernyataan, dan tindakan mengunggulkan atau memusuhi kelompok masyarakat semata-mata atau terutama karena identitas ras. Dalam bentuknya yang kecil sehari-hari, rasisme tidak berbahaya. Ia muncul dalam banyolan yang mengejek ras tertentu. Yang berbahaya adalah bila rasisme disponsori oleh kekuatan destruktif alat-alat negara dan dibantu preman yang direkrut negara. Hal inilah yang terjadi di Australia.

Sebagai negara jajahan, Australia mempunyai sejarah yang diwarisi oleh rasisme yang sangat kental, baik terhadap bangsa Aborigin atau kepada imigran (kaum pendatang) ke Australia. Populasi mayoritas di Australia berlatar belakang Anglo-celtic (Inggris atau Irlandia). Mayoritas yang menjadi korban rasisme di Australia adalah masyarakat Aborigin, Asia, Arab dan Yahudi.

Sejarah Rasisme di Australia

Bangsa Inggris bermigrasi ke Australia pada tahun 1850-an hingga mencapai 50.000 orang per tahun, sampai penduduk Australia mencapai lebih dari 7 juta orang pada tahun 1940-an. Sebagian besar pemukim itu berasal dari Inggris dan Irlandia. Pemukim dari Eropa itu menyingkirkan warga Aborigin, dan mengambil alih milik mereka. Pada awalnya penduduk “putih” Australia itu sangat rasis. Lewat Akta Pembatasan Imigrasi Tahun 1901, mereka membatasi bahwa imigran yang datang ke Australia itu berasal dari Eropa. Kebijakan “Australia Putih” itu kemudian secara bertahap dihapuskan seusai Perang Dunia II, dan hilang sama sekali pada pertengahan tahun 1970-an.

Ada sedikit harapan bagi kaum Aborijin dan imigran lainnya pda saat dicabutnya Kebijakan White Australia Policy pada tahun 1972. Namun demikian, kebijakan untuk pembauran atau asimilasi tidak berhasil dan tidak adil. Pemerintah Australia menyadari hal tersebut sehingga pada tahun 1989 dikeluarkan kebijakan Multikulturalisme.

Seusai Perang Dunia II, Pemerintah Australia memulai program migrasi formal, yang telah membawa masuk 6 juta pendatang ke Australia. Dalam tahun-tahun terakhir, pendatang dari sekitar 200 negara telah menjadikan Australia sebagai tempat tinggal mereka. Lebih dari 200 bahasa yang dipercakapkan di Australia, yang terbanyak Inggris, Italia, Yunani, Kanton, Arab, Vietnam, dan Mandarin. Hampir seperempat dari penduduk Australia yang berjumlah 19,6 juta lahir di luar negeri, dan 43 persen dari penduduk Australia, salah satu atau kedua orangtuanya lahir di luar negeri.

Sensus pada tahun 1901 menunjukkan bahwa penduduk Australia berjumlah 3.773.801 orang. Dari jumlah penduduk sebesar itu, 857.576 orang atau 22,7 persen lahir di luar negeri, dengan komposisi 10 besar yang sangat Barat. Urutan pertama diduduki Inggris sebanyak 495.074 orang (13,1 persen), diikuti Irlandia 184.085 orang (4,9 persen), Jerman 38.352 orang (1,0 persen), China 29.907 orang (0,8 persen), Selandia Baru 25.778 orang (0,7 persen), Swedia dan Norwegia 9.863 orang (0,3 persen), serta India 7.637 orang, AS 7.448 orang, Denmark 6.281 orang, dan Italia 5.678 orang, masing-masing 0,2 persen.

Komposisi itu sudah jauh berubah pada tahun 2001. Dari jumlah total 18.769.791 orang, diantaranya 4.106187 orang atau 21,9 persen lahir di luar negeri. Komposisinya sebagai berikut:
1. Urutan pertama masih dipegang Inggris sebanyak 1.036.437 orang, tetapi persentasenya turun menjadi 5,5 persen yang dulunya 13,1 persen.
2. Selandia Baru 355.684 orang, naik dari urutan kelima, dengan 1,9 persen yang dulunya 0,7 persen.
3. Italia 218.754 orang, naik ke tempat ketiga yang dulunya memegang urutan ke-10, dengan 1,2 persen.
4. Vietnam 154.831 orang, dengan 0,8 persen,
5. China 142.717 orang dengan 0,8 persen.
6. Yunani 116.531 orang dengan 0,6 persen.
7. Jerman 108.238 orang, dengan 0,6 persen, turun dari tempat ketiga dengan 1.0 persen.
8. Tempat kedelapan ditempati Filipina 103.989 orang (0,6 persen),
9. India 95.456 orang (0,5 persen), dan
10. Belanda 83.249 orang (0,4 persen).

Kedudukan Orang Aborigin di Australia

Kesenjangan sosial, ekonomi, dan politik membuat hubungan antara kaum Aborigin dan penduduk kulit putih selalu menjadi tegang. Kaum Aborigin merasa diperlakukan secara diskriminatif sehingga ruang gerak mereka dalam bidang ekonomi, politik, dan sosial sangat terbatas atau dibatasi. Seiring dengan perkembangan dan arus perubahan, masyarakat Aborigin semakin menyadari hak-haknya. Belakangan tuntutan persamaan hak itu meningkat dengan tajam. Pemerintah Australia yang didominasi kaum putih sudah berusaha melakukan perbaikan, tetapi dianggap hanya setengah hati.

Dalam perkembangannnya, masyarakat Aborigin mudah menjadi putus asa dan kehilangan harapan untuk mendapat peluang hidup lebih baik. Masyarakat kulit putih sudah melesat jauh di depan, sementara kaum Aborigin merasa dibiarkan tertinggal jauh di belakang. Lebih memprihatinkan, populasi Aborigin cenderung menciut. Jumlahnya tinggal sekitar dua persen dari 20 juta jiwa penduduk Australia. Lingkungan kehidupan masyarakat Aborigin terdesak habis oleh masyarakat kulit putih.

Masyarakat Aborigin secara garis besar hidup di bawah garis kemiskinan. Angka kematian warga Aborigin rata-rata lebih cepat 20 tahun ketimbang warga Australia lainnya. Tingkat pengangguran tinggi sehingga mereka cepat tergoda melakukan tindak kekerasan dan meminum minuman keras.Perlakuan terhadap kaum Aborigin antara tahun 1910 sampai tahun 1970 dianggap melanggar hak asasi manusia, lebih-lebih kalau dilihat dari perspektif sekarang. Sekitar 100.000 anak Aborigin, termasuk ayah Hickey, diambil paksa atau diculik dari orangtuanya untuk berasimilasi dengan budaya kulit putih.

Ketidakadilan yang dirasakan bangsa Aborijin dan bangsa Imigran di Australia
Ada banyak contoh kasus yang dapat menjelaskan mengenai betapa rasisme sudah sangat mengakar di Australia. Contoh kasusnya antara lain:
Di Sidney, 30 orang luka-luka dalam kerusuhan bermotif rasisme di Australia pada 12 Desember 2005. Lebih dari 5.000 pemuda memprotes adanya serangan warga Libanon terhadap dua pengawas pantai Australia. demonstran mengibarkan bendera Australia dan menyanyikan lagu-lagu bertema rasis di Pantai Cronulla, di samping itu massa bergerak menyerang warga keturunan Arab. Dari kasus ini bisa dilihat betapa warga pendatang sangat dikambing hitamkan di Australia.

Perbudakan juga dibawa ke Australia. Sebagai contoh, para petani besar dan pengusaha peternakan tidak diwajibkan membayar para pekerja Aborigin dengan uang tunai sampai abad ke-20. Dan lebih dari 60.000 budak didantangkan ke Queensland dari pulau-pulau di Pasifik antara tahun 1863 sampai 1904.

Adanya penolakan Proposal pembangunan sekolah Islam yang ditolak oleh dewan kota. Penolakan ini memantik kontroversi di seantero negeri. Masyarat al-Qur’an (Qur’anic Society), wadah tempat berkumpulnya warga Muslim akhirnya menggugat putusan dewan kota melalui pengadilan. Walikota Camden Chris Patterson mengatakan, penolakan pendirian sekolah itu bukan karena masalah agama, tapi atas pertimbangan dampak pada lingkungan sekitar. Sekolah itu akan berimbas pada arus lalu-lintas dan hilangnya tanah pertanian. Dan didasarkan atas pertimbangan tempat. Semua hal yang menyangkut isu agama dan nasionalisme tidak masuk ke dalamnya.

Ada sejumlah Asumsi yang menyatakan bahwa putusan yang mereka buat dipengaruhi oleh intervensi dan tekanan politik pemerintah. Alasan dewan kota itu hanya sebuah tabir yang menutupi isu sebenarnya, yaitu pergolakan sosial bila pendirian sekolah itu disetujui. Masyarakat al-Qur’an yang menggagas pendirian sekolah ini tidak akan menyerah begitu saja, mereka akan menempuh jalur hukum. Lembaga ini juga menepis tudingan bahwa mereka terkait dengan gerakan ekstrimisme manapun. Pembangunan sekolah Islam ini bertujuan untuk menyediakan pendidikan dan pengajaran agama yang baik bagi komunitas Muslim di Sydney yang terus kini terus berkembang.

Pemicu Rasisme dalam politik Australia

Perlakuan masyarakat kulit putih yang diskriminatif terhadap kaum Aborigin memperlihatkan masalah rasisme masih menjadi isu serius di Australia. Apalagi kemudian muncul politisi kulit putih, seperti Ny Pauline Hanson di Negara Bagian Queensland, yang sengaja mengeksploitasi sentimen rasial. Kemunculan Pauline Hanson, membuat rasisme malah menjadi tren. Kebanyakan warga Australia tidak mendukung Pauline Hanson, namun jajak pendapat memperlihatkan bahwa tidak sedikit orang Australia yang menentang kedatangan para imigran dari Asia.

Orang-orang “putih” Australia yang berpikiran rasis memang masih ada, yang ingin mempertahankan kebijakan “Australia Putih”. Namun, jumlahnya tidak banyak, dan gagasan-gagasan mereka juga tidak lagi populer di kalangan rakyat Australia. Pauline Hanson merupakan salah seorang di antaranya. Pada tahun 1996, perempuan asal Negara Bagian Queensland dari kalangan independen itu meminta agar migrasi orang Asia ke Australia itu segera diakhiri.

Pada awalnya Hanson diangkat menjadi calon Partai Liberal. Tetapi akibat komentar rasisnya, dia diusir sehingga menjadi calon Independen. Paul Hanson terpilih di daerah Oxley. Di daerah Oxley, jumlah pengangguran kira-kira sepuluh persen, tetapi jumlah pengangguran kaum muda sudah mencapai 20 persen. Pemerintah PaulKeating yang berkuasa pada masa itu sama sekali tidak berhasil mengurangi jumlah pengangguran di tempat tersebut, sehingga tidak mengherankan kalau mereka ingin memberi suaranya sebagai suara protes kepada si calon yang bersuara keras antikemapanan.

Akhirnya kesenjangan sosial di Australia makin lebar. Bahkan tidak hanya para pengangguran yang merasa tertekan, tetapi orang-orang yang sudah pensiun juga khawatir terhadap kebijakan pemerintah mengenai pelayanan kesehatan dan lain-lain, yang akan memungkinkan penurunan kualitas gaya hidup mereka. Dalam ketakutan itu, kejahatan pun berkembang. Banyak orang Australia yang biasanya bersikap toleran pada segala macam orang, agama, dan adat, tidak ingin menerima realitas ekonomi sosial yang ada saat ini. Sehingga mereka pun mengalami frustasi dan banyak di antara mereka kemudian mengambinghitamkan orang Asia, khususnya imigran Asia, untuk melepaskan stres mereka.

Disamping persoalan ekonomi sosial itu, pemerintahan sebelumnya juga harus bertanggung jawab atas kegagalannya menjelaskan dan menyelenggarakan kebijakan multibudaya untuk orang asli Australia, Aborigin. Walaupun ternyata kebijakan-kebijakan itu memanfaatkan berbagai budaya orang Australia dan beberapa kelompok Aborigin, dari situlah banyak warga negara, seperti Pauline Hanson yang berasal dari Eropa, merasa dilupakan.

Perkembangan Rasisme dalam Politik Domestik Australia

Mayoritas kelas yang tengah berkuasa masih ragu-ragu untuk ikut memicu suasana rasis di Australia, Alasannya:
1. Australia harus tetap berhubungan dengan negara-negara Asia.
2. Australia juga butuh para imigran yang terampil
3. dengan standar hidup yang semakin merosot, negeri ini sulit untuk mendapatkan tenaga-tenaga itu dari Eropa.

Maka para politisi sering menghendaki kita untuk bersikap toleran.Meski begitu, tidak sedikit pekerja yang masih memiliki rasisme yang tinggi. Ini bukan berarti mereka bodoh, melainkan karena mereka merasa cemas. Cemas akan masalah pengangguran, gaji yang menurun, pemotongan dalam palayanan sosial, dsb. Orang-orang Asia dan Aborijin sering menjadi kambing hitam. Makanya sebuah perjuangan yang efektif melawan rasisme harus disertai dengan perjuangan yang melawan aspek kapitalisme lainnya, seperti krisis ekonomi atau rezim politik otoriter.

Langkah pemerintah Australia dalam memerangi isu rasisme.
Hal yang dapat dilakukan pemerintah untuk mengurangi rasisme warga “putih” Australia terhadap kaum Migran dan Aborigin adalah dengan menyebarkan informasi yang benar, supaya masyarakat dapat memahami lebih dalam mengapa kita menerima pengungsi, keluarga imigran, dan imigran yang mempunyai keterampilan yang dibutuhkan Australia.

Kampanye tokoh media Phillip Adams, pawai-pawai antirasisme melawan Hanson di beberapa kota termasuk Brisbane dan keputusan semua partai politik yang diwakili Dewan Parlemen untuk menolak rasisme, membuktikan bahwa tidak semua orang Australia mengikuti jalan pikiran Hanson.

Langkah-langkah itu hanya merupakan upaya pertama, untuk membangun masyarakat Australia yang tidak lagi rasis. Bagi saya, keluarga saya, semua teman saya, dan kebanyakan kenalan saya, sangat sadar bahwa masalah rasisme yang mendominasi media massa di Australia selama 1996 harus diatasi secepat mungkin. Tetapi, selama masalah sosial politik utama tidak ditangani dengan baik, gejala yang mengakibatkan rasisme tidak akan hilang. Selama itu, sebaiknya kita membicarakan masalah lain saja.

KESIMPULAN

Wajah Australia secara umum terkesan santai, meskipun di dalamnya masih saja menyimpan persoalan-persoalan ekonomi, politik dan rasisme. Sekarang ini pemerintah yang berkuasa adalah Partai liberal kanan konservativ yang “membeo” habis Amerika dan sangat neolib juga phobi terhadap “Non Putih”, terutama sejak isu anti terorisme diangkat-angkat. Bahkan dengan isu anti terorisme ini, persoalan rasisme acapkali muncul. Kaum hitam masih menjadi warga kelas dua. Meskipun para penguasa negeri-negeri itu menolak mengakui masih ada persoalan Rasisme. Tetapi Rasisme nyatanya selalu terjadi, di mana ada ketidak adilan berlangsung.

Hal yang dapat dilakukan pemerintah untuk mengurangi rasisme warga “putih” Australia terhadap kaum Migran dan Aborigin adalah dengan menyebarkan informasi yang benar, supaya masyarakat dapat memahami lebih dalam mengapa kita menerima pengungsi, keluarga imigran, dan imigran yang mempunyai keterampilan yang dibutuhkan Australia. Sehingga warga “putih”Australia tidak lagi mengkambinghitamkan dan lebih menghargai adanya kaum Migran dan Aborigin di Australia.

Sumber: https://www.dosenpendidikan.com/