Inkar as-Sunnah pada Periode Modern

 Inkar as-Sunnah pada Periode Modern

Tokoh- tokoh kelompok Inkar as-Sunnah Modern (akhir abad ke-19 dan ke-20) yang terkenal adalah Taufik Sidqi (w. 1920) dari Mesir, Ghulam Ahmad Parvez dari India, Rasyad Khalifah kelahiran Mesir yang menetap di Amerika Serikat, dan Kasasim Ahmad mantan ketua partai Sosialis Rakyat Malaysia. Mereka adalah tokoh-tokoh yang tergolong penginkar as-sunnah secara keseluruhan. Argumen yang mereka keluarkan pada dasarnya tidak berbeda dengan kelompok inkar as-sunnah pada periode klasik. Tokoh-tokoh “inkar as-sunnah” yang tercatat di Indonesia antara lain adalah Lukman Sa’ad (Dirut PT. Galia Indonesia) Dadang Setio Groho (karyawan Unilever), Safran Batu Bara (guru SMP Yayasan Wakaf Muslim Tanah Tinggi) dan Dalimi Lubis (karyawan kantor Depag Padang Panjang). Sebagaimana kelompok inkar as-sunnah klasik yang menggunakan argumen baik dalil naqli maupun aqli untuk menguatkan pendapat mmereka, begitu juga kelompok inkar as-sunnah Indonesia. Diantara ayat-ayat yang dijadikan sebagai rujukan adalah surat an-Nisa’ ayat 87

….وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ حَدِيثًا

Menurut mereka arti ayat tersebut adalah“… siapakah yang benar haditsnya dari pada Allah”.

Kemudian surat al-Jatsiayh ayat 6:

….فَبِأَيِّ حَدِيثٍ بَعْدَ اللَّهِ وَآيَاتِهِ يُؤْمِنُونَ

“..maka dengan perkataan manakah lagi mereka akan beriman…“

Selain kedua ayat diatas, mereka juga beralasan bahwa yang disampaikan Rasul kepada umat manusia hanyalah al-Quran dan jika Rasul berani membuat hadits selain dari ayat-ayat al-Quran akan dicabut oleh Allah urat lehernya sampai putus dan ditarik jamulnya, jamul pendusta dan yang durhaka. Bagi mereka Nabi Muhammad tidak berhak untuk menerangkan ayat-ayat al-Quran, Nabi hanya bertugas menyampaikan.

  1. Argumentasi Kelompok Inkar As-Sunnah

Sebagai suatu paham atau aliran, inkar as-sunnah klasik ataupun modern memiliki argumen-argumen yang dijadikan landasan mereka. Tanpa argumen-argumen itu, pemikiran mereka tidak berpengaruh apa-apa. Dalam karyanya, Umi Sumbulah (2000:149) megutip argumen mereka, antara lain :

  1. Agama bersifat konkrit dan pasti Mereka berpendapat bahwa agama harus dilandaskan pada hal yang pasti. Apabila kita mengambil dan memakai hadits, berarti landasan agama itu tidak pasti. Al-Quran yang kita jadikan landasan agama itu bersifat pasti. Sementara apabila agama islam itu bersumber dari hadits , ia tidak akan memiliki kepastian karena hadits itu bersifat dhanni (dugaan), dan tidak sampai pada peringkat pasti.
  2. Al-Quran sudah lengkap jika kita berpendapat bahwa al-Quran masih memerlukan penjelasan, berarti kita secara jelas mendustakan al-quran dan kedudukan al-quran yang membahas segala hal dengan tuntas. Oleh karena itu, dalam syari’at Allah tidak mungkin diambil pegangan lain, kecuali al-Quran.
  3. Al-Quran tidak memerlukan penjelas al-Quran tidak memelukan penjelasan, justru sebaliknya al-Quran merupakan penjelasan terhadap segala hal. Mereka menganggap bahwa al-quran cukup memberikan penjelasan terhadap segala masalah.

https://movistarnext.com/