HOTS Bukan Hanya Berbicara Soal Ujian

HOTS Bukan Hanya Berbicara Soal Ujian

HOTS Bukan Hanya Berbicara Soal Ujian

HOTS Bukan Hanya Berbicara Soal Ujian
HOTS Bukan Hanya Berbicara Soal Ujian

Penerapan High Order Thinking Skill (Hots) masih menjadi polemik

karena dianggap tidak berpihak pada siswa. Sementara, pemerintah dalam menerapkan HOTS mengklaim bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan.

Menurut PISA 2015, kemampuan siswa Indonesia dalam memahami isu sains berada pada peringkat 64, kemampuan membaca pada peringkat 66 dan kemampuan Matematika pada peringkat 65 dari 72 negara partisipan OECD.

Sedangkan hasil Asesmen Kompetensi Siswa Indonesia (AKSI) mengungkapkan, persentase pencapaian siswa Indonesia sesuai standar yang ditetapkan masing-masing di bidang Matematika adalah 77,13 persen, membaca sebesar 46,83 persen dan Sains sebesar 73,61 persen (Pusat Penilaian Pendidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, 2016).

Terkait hal itu, Pakar Pendidikan Itje Chodijah pun memandang penerapan hHOTS

menjadi salah kaprah. Menurutnya, HOTS proses di dalam kelas di mana anak berpikir kritis melalui low order thinking skill diajak perlahan untuk naik dan mulai diajak berpikir aktual berpendapat.

“Jika anak terus-terus diminta berpikir seperti itu di kelas, maka anak-anak inilah yang akan memiliki keterampilan berpikir dengan baik,” jelas Itje kepada JawaPos.com, Kamis (3/5).

“Maka ketika tampil di kehidupan nyata, anak untuk berpikir bisa menguasai HOTS. HOTS bukan bikin soal, tapi untuk mengajak berpikir tinggi dan kritis lewat proses belajar mengajar,” tegasnya.

Itje menjelaskan HOTS awalnya digagas oleh  Bloom, sehingga didapatilah gagasa

n pendidikan taksonomi Bloom. Sehingga, prinsipnya orang tahu dulu akan HOTS, baru diajak mengevaluasi menganalisa sampai paling tinggi itu menciptakan sesuatu.

“Ini bisa dilakukan dalam kelas, ketika anak terbiasa diajak berpikir secara HOTS, maka ketika ulangan sekalipun anak tidak akan protes. Tapi kalau proses di dalam kelas tidak ada, terus langsung pada ujian disuruh berpikir kritis ya pasti ada gap di sini karena tidak terbiasa,” terangnya.

Sehingga, Itje menekankan HOTS digunakan untuk meningkatkan kualitas berpikir, bukan hanya urusan soal. Dirinya meminta guru untuk dilatih menerapkan HOTS dalam proses pembelajaran bukan hanya membuat soal berkonsep HOTS.

“Saya harap guru dapat mengutamakan proses di dalam kelas menggunakan HOTS. Agar nantinya di kelas anak mampu menganalisa mampu membuat sesuatu namun tidak hanya dalam tataran sekolah,” pungkasnya.

 

Sumber :

https://yaplog.jp/ojelhtcmandiri/archive/4