Floor, Remote dan On Line Trading

Floor, Remote dan On Line Trading

Floor, Remote dan On Line Trading

Floor, Remote dan On Line Trading
Floor, Remote dan On Line Trading
FLOOR TRADING
Perkembangan mekanisme perdagangan di Bursa Efek Jakarta terjadi sejalan dengan adanya peningkatan dari para pelaku pasar. Penambahan jumlah emiten, jumlah saham yang ditransaksikan dan jumlah investor yang terlibat di dalam perdagangan, implikasinya mengharuskan adanya perubahan pada sistem.
Perdagang di bursa secara manual ini pada mulanya dapat berjalan lancar karena jurnlah efek yang tercatat di bursa, rnaupun pialang yang terlibat di lantai bursa masih terbatas. Namun, dalam perkembangan bursa, terutama sejak terjadi boom pasar modal pada akhir tahun 1989, jumlah efek yang tercatat dan pialang yang terlibat meningkat dengan pesat. Penambahan jumlah emiten dan jumlah anggota bursa menyebabkan jumlah pialang di lantai bursa cukup padat.
Hal tersebut menimbulkan masalah operasional, antara lain :
  1. Dengan manual, jumlah transaksi perhari sangat terbatas.
  2. Kecepatan dan ketepatan alokasi oleh petugas bursa juga terbatas.
  3. Pada saat pasar ramai memungkinkan terjadinya kesalahan tulis yang bisa berakibat fatal.
  4. Kondisi pasar tidak memberikan kesempatan yang sarna kepada para pialang.
  5. Kesempatan untuk menulis order di papan tergantung pada fisik pialang yang bertugas di lantai perdagangan.
  6. Memungkinkan timbulnya kolusi antara pialang untuk memainkan suatu efek.
  7. Biaya per unit transaksi cukup tinggi.
  8. Masih tersisanya order yang belum sampai teralokasi saat itu juga, karena kecepatan dan ketepatan alokasi sistem perdagangan manual yang terbatas.

 

Dengan adanya masalah dan keterbatasan tersebut, maka, pengembangan di bursa menjadi terbatas dan dampak lebih lanjut adalah likuiditas pasar terbatas. Hal ini disebabkan kapasitas manual hanya sanggup menangani transaksi perhari maksimum 3.800 transaksi. Jika terjadi transaksi melebihi jumlah tersebut, proses administrasi yang dilakukan anggota bursa maupun petugas bursa menjadi lambat dan memer!ukan waktu yang lama untuk penyelesaiannya.
Mekanisme perdagangan di bursa tidak hanya melibatkan BEI sebagai fasilitator perdagangan, tetapi juga melibatkan perusahaan efek sebagai perantara pedagang efek dan juga PT Kliring dan Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) sebagai lembaga kliring, serta PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI). Di Indonesia hanya ada satu penyelenggara kegiatan bursa efek, yaitu BEI yang merupakan hasil penggabungan dari PT Bursa Efek Jakarta (BEJ) dan PT Bursa Efek Surabaya (BES) pada tahun 2007.
Mekanisme transaksi saham di bursa efek sebenarnya cukup rumit.
PT Bursa Efek Indonesia (BEI) telah menghentikan aktivitas perdagangan saham melalui lantai bursa, yang digantikan dengan perdagangan jarak jauh melalui sistem elektronik atau biasa disebut perdagangan floorless