Dinamisme

Dinamisme

Masyarakat Jawa mempercayai bahwa apa yang telah mereka bangun adalah hasil dari adaptasi pergulatan dengan alam. Kekuatan alam disadari merupakan penentuan dari kehidupan seluruhnya.[14] Sebagai contoh, keberhasilan pertanian tergantung dari kekuatan alam, matahari, hujan, angin dan hama, tetapi mereka masih mempercayai kekuatan adikodrati di balik semua kekuatan alam tersebut. Salah satu bentuk kekuatan yang terdapat dalam dan di balik gejala-gejala alam tersebut adalah kekuatan dinamisme.[15]

Perkataan dinamisme berasal dari bahasa Yunani, yaitu dunamos atau dalam bahasa Inggris disebut dynamic yang artinya kekuatan, kekuasaan dan daya.[16]

Dalam Ensiklopedi Umum dijumpai definisi dari dinamisme sebagai kepercayaan keagamaan primitif pada zaman sebelum kedatangan agama Hindu ke Indonesia.[17] Dinamisme disebut juga dengan istilah preanimisme[18] yang mengajarkan, bahwa tiap-tiap benda atau makhluk mempunyai mana.[19]

Begitu juga di dalam Kamus Ilmiah Populer dijumpai bahwa arti dari dinamisme adalah kepercayaan primitif dimana semua benda mempunyai kekuatan yang bersifat ghaib.[20]

Dapat disimpulkan bahwa dinamisme adalah kepercayaan terhadap benda-benda di sekitar manusia yang diyakini mempunyai kekuatan ghaib. Maksud dari kekuatan tersebut adalah kekuatan yang berada dalam suatu benda (bisa berasal dari api, air, batu-batuan, benda ciptaan, pepohonan, hewan atau bahkan manusia sendiri) dan diyakini mampu memberikan manfaat atau memberikan bahaya.

Masyarakat Jawa percaya bahwa roh itu tidak hanya menempati makhluk hidup tetapi juga menempati benda-benda mati atau benda yang dianggap keramat. Biasanya benda-benda yang mereka keramatkan adalah benda-benda pusaka peninggalan dan juga makam-makam dari para leluhur atau tokoh yang mereka hormati.

Pada umumnya benda-benda yang mengandung mana ini bermanfaat bagi pemiliknya sebagai penangkal penyakit atau bahaya. Benda ini bisa berwujud pusaka seperti keris, cincin akik, tombak dan sebagainya. Di samping penolak dan penangkal, benda-benda pusaka yang mengandung mana itu juga dianggap dapat mendatangkan kehormatan dan kemuliaan kepada pemiliknya.[21]

Cara untuk menghormati fetish[22] biasanya dilakukan oleh masyarakat dengan merawat dengan baik benda tersebut, diolesi dan disirami pada waktu tertentu, disuguhi hidangan makanan atau kembang serta diasapi dengan kemenyan. Semua ini dilakukan dengan maksud agar kekuatan yang terkandung dalam benda itu bertambah, terpelihara atau terbaharui.[23]

Selain itu, cara untuk menghormati benda-benda pusaka tersebut adalah dengan cara kirab pusaka seperti yang dilakukan di Keraton Yogyakarta maupun Keraton Surakarta, yang mana sebelum dilakukan kirab, pusaka-pusaka tersebut juga dimandikan dengan air khusus dan ritual lainnya yang mengikuti dalam prosesi kirab pusaka.

Sumber :

https://littlehorribles.com/