Diknas, Nahdliyyin, dan Pak Nuh

Diknas, Nahdliyyin, dan Pak Nuh

Diknas, Nahdliyyin, dan Pak Nuh

Diknas, Nahdliyyin, dan Pak Nuh
Diknas, Nahdliyyin, dan Pak Nuh

Butuh diskusi panjang untuk mengurai permasalahan di dunia pendidikan kita. Salah satu Permasalahan mendasarnya adalah keterbatasan fasilitas pendidikan dan kesejahteraan guru. Penyebutan anggaran minimum pendidikan dalam konstitusi kita yang kemudian diberitakan berangsur-angsur dipenuhi oleh APBN maupun APBD, ternyata belum banyak membawa peubahan di madrasah-madrasah pedesaan.

Guru-guru madrasah di desa Saya mengeluhkan dana bantuan untuk seluruh guru madarasah di Lamongan ternyata lebih kecil dibanding dana untuk Persela. Madrasah pun selalu kekurangan dana operasional tiap bulan.

Peserta musyawarah yang membicarakan madrasah di serambi Masjid Jami’ desa Saya pun sering cemburu dengan pesatnya pembangunan sekolah-sekolah Perserikatan. Mereka berandai-andai madrasah mereka mendapat banyak bantuan.

Mimpi itu seolah menjadi kenyataan saat Pak Nuh berubah posisi dari Menkominfo menjadi Mendiknas. Setahu mereka Pak Nuh adalah orang NU. Pengurus PBNU. Memang semenjak menjadi Menteri, nama Pak Nuh mendadak terkenal di keluarga besar lemabag pendidikan ma’arif. Setidaknya di daerah Kecamatan Saya. Dari mulut ke mulut diceritakan tentang adanya seorang profesor yang mantan rektor ITS dan sekarang menjadi menteri ternyata adalah seorang nahdliyin. Bahkan sekarang menjadi pengurus PBNU.

Saat Pak Nuh berubah posisi menjadi Mendiknas, banyak Nahdliyin berandai-andai madrasah mereka mendapat banyak bantuan. Barangkali mereka sebagian besar dana pendidikan dikelola Depdiknas, bukan Depag. Selama ini Menteri Agama berasal dari kalangan Nahdliyyin, madrasah mereka juga tidak banyak berubah karena posisi itu.

Pejuang pendidikan di desa-desa (sekali lagi setidaknya di daerah Kecamatan Saya) berharap banyak Pak Nuh akan membawa kemajuan bagi madrasah di desa. Kerena mereka mengangap Pak Nuh bagian bahkan pejuang mereka.

Akan buruk akibatnya jika kebijakan liberalisasi pendidikan yang sangat mungkin akan dijalankan Pak Nuh didukung membabi buta oleh Nahdliyyin. Konsolidasi sipil untuk melawan UU BHP dan liberalisasi pendidikan sangat mungkin terhambat

Persepsi warga NU terhadap Pak Nuh barangkali kurang lebih sama dengan persepsi umat Islam kepada Habibi dahuklu. Mereka membayangkan Habibi sebagai sosok ilmuwan yang menguasai iptek dan imtaq sekaligus. Begitu istilah yang populer untuk Habibi saat itu. Sisi Habibi sebagai pelaku dalam perebutan kekuasaan diabaikan. “Jadilah seperti Habibi, pembuat pesawat terbang, profesor berotak Jerman berhati Mekah”, begitu kata guru Saya dahulu di Madrasah. Habibi tampak suci sebagai ilmuwan. Padahal….

Saat ini Pak Nuh juga dianggap bukan politisi tetapi ilmuwan tulen. Pak Nuh dianggap pejuang NU, tanpa memperhatikan rekam jejaknya secara keseluruhan. Banyak yang tidak mengetahui bagaimana kepemimpinan Pak Nuh di ITS mengebiri gerakan mahasiswa dan membungkam mahasiwa kritis. Banyak yang tidak mengetahui bagaimana kepemimpinan Pak Nuh di ITS tidak memberikan keadilan bagi mahasiswa dan calon mahsiswa miskin. Banyak pula yang tidak mengetahui Pak Nuh adalah pendukung UU BHP, pendukung PTN berubah menjadi PTBHMN, dan dengan demikian adalah pendukung liberalisasi pendidikan. Banyak yang tidak memahami liberalisasi pendidikan dapat menghancurkan madrasah-madrasah di desa.

Akan buruk akibatnya jika kebijakan Pak Nuh yang mendukung liberalisasi pendidikan didukung membabi buta oleh Nahdliyyin karena merasa Pak Nuh adalah wonge dewe yang luar biasa hebat sehingga mesti benere. Konsolidasi sipil untuk melawan UU BHP dan liberalisasi pendidikan sangat mungkin terhambat.

Sumber : https://dunebuggyforsale.org/strain-tactics-apk/